search here and find more articles

Selasa, 28 April 2009

menghargai waktu_

Sederhana sekali hidupku, bangun telat, bersiap menghabiskan pagi di warung kopi lalu berangkat kuliah dengan buku yang sama. Sama bentuk, sama isi, dan sama sekali tak pernah di buka jika tidak di paksa seorang dosen terhormat meminta untuk membuka buku di kelas.
Rotasi ini sebenarnya jauh dari kehidupan yang lama aku angankan. Hidup yang berkeringat tepatnya. Dimana jiwa, semangat dan otak selalu bergerak, menggesek, terplanting, memanjat dan menguasai sesuatu hal. Dengan kata lain, menjadi seorang master. Hemmm.. menyenangkan bukan?
Suatu waktu entah kapan, saat waktu yang kita punya tinggal seteguk pasti akan ada sesal yang menjejal. Apa yang pernah kita sumbangkan untuk batin ini? Pengorbanan macam apa yang pernah kita berikan untuk keluarga dan sahabat yang mengiringi langkah-langkah kita tiap hari.
Sebelum akhirnya teguk terakhir habis dalam kondisi yang sama. Akan sangat membahagiakan kalau saja hari ini kita berkarya. Setidaknya, sebuah karya apa saja macamnya. Yang pasti, menyangkut suatu yang menuju peningkatan hidup dan bersifat positif. Terserah orang lain menertawakan gerak kita, tapi setidaknya dari tawa itulah kita telah mengantongi satu point penting. Apa itu?
Eksistensi, keberadaan kita di akui dunia, meskipun di tertawakan tapi sederhananya, kita berwujud di dunia. Wujud yang berfikir dan berkembang yang nantinya akan berimplementasi pada tawa dunia, menjadi tawa "kebanggaan" mereka atas dan karya kita.
25 01 09