search here and find more articles

Rabu, 17 Februari 2010

Mitos Alis Orang Jawa Dalam Hidupku

(1 februari 2010, setelah lama tak menulis dan tahu apa yang harus ditulis.)
           Beberapa bulan terakhir ini, yang terjadi padaku setelah bangun tidur dan menatap kaca selalu ada bulu alisku dibawah mata. Kata orang jawa, ini pertanda bahwa ada orang yang merindukan kita. Kalau diusut, saat ini memang banyak orang yang punya “kedekatan” khusus denganku. Tapi, di mana mereka berpijak, tak jauh dari tanah yang juga aku pijak. Lalu siapa yang merindukanku?


Permasalahan jatuhnya bulu alis yang secara rutin ini, memberikan perhatian khusus dalam otakku. Ada space waktu dan fikiran khusus dimana aku harus mencari siapa sebenarnya yang mengingatku seperti ini?
Jawaban itu datang sehabis magrib dipenghujung januari, pesan pendek di HP dari seorang ayah yang menanyakan kapan kepulangan putranya. Mengabari seolah seisi rumah telah menunggu untuk kedatanganku. Mereka adalah Ibu, bapak dan satu adik putriku yang mulai beranjak dewasa. Terakhir kali aku dirumah adalah saat Idul Fitri, sekitar 5 bulan lalu. Waktu yang cukup lama untuk ukuran jarak Surabaya- Surakarta.
Entah aku yang bodoh atau memang kurang peka, sejak kuliah di Surabaya, aku jarang sekali mudik ke Boyolali dimana keluargaku berpijak. Dan dikabupaten itu juga satu-satunya nenekku yang masih sugeng tinggal. kadang hanya setahun dua kali aku pulang, itupun tak sampai sepekan. Kumohon jangan sampai keluargaku berfikir aku tidak kerasan disana, hanya saja aku memang kurang pandai mengatur waktu yang aku punya.
Maafkan aku  keluargaku, secepatnya aku janji untuk pulang dan rutin mengunjungi rumah dan harmoni dapur mungil dimana masakan ibuku hangat tersaji. Menapaki jalan dengan menyapa semua orang-orang, serta di kamis sore kita berziarah ke makam kakek di ujung desa.