Setelah cuci muka dan siap untuk memejamkan mata, melangkahkan kaki kekamar. Ada hasrat untuk mengheningkan diri mendengar lagu “Nasehat Pengemis untuk Istri”. Ada nada sendu yang mengadu, bercampur bait yang securam dalamnya palung. Mungkin inilah saat yang tepat untuk mengingat masa-masa lalu dan refleksi saat senjaku nanti. Memikirkannya sebelum tidur, rasanya tak akan terlalu menyita banyak fikiranku, hanya saja akan membangkitkan sedikit kesadaran manusiawiku.
“Tuhan selamatkan istri dan anakku” begitu salah satu lirik yang menggema dari lagu Ebiet G Ade. Aku ingat beberapa sosok perempuan yang selama ini dekat dengan hidupku, pancaran kasih Tuhan yang memang menguatkan kehidupanku. Ibu, sebagai orang yang harus aku cium kakinya 3 kali lebih banyak dari pada ayah. Kedua nenekku yang setahuku, mereka bangga dengan kelahiranku, hanya saja sekarang beliau telah renta dan satunya lagi telah berada di alam berbeda (semoga Allah mengampuni dosanya). Luthfi Umi Khasanah, satu-satunya saudari perempuanku yang bandel. Si cengeng yang menjadikanku tempat bertanya soal matematika kelas 5 SD dan huruf qolqolah. Terakhir kali, pastinya seorang perempuan yang setahun lebih sabar menjalani hidup tanpa ku beri makan, ku berikan kejelasan status dan kukatakan bahwa aku bangga padanya. Yang aku berikan adalah kep[ercayaan dan do’a untuk kebersamaan yang kami idamkan sampai nafas terakhir melewati labirin-labirin panjang dalam tubuh kami.
Tuhan aku punya permintaaan, haturkan maafku kelak jika aku belum sempat mengatakannya pada mereka. Aku yakin Engkau kuasa untuk mengabulkannya. Biarkan tangis ini pecah dibatu mimpi, begitu melankonis malam ini. Membayangkan wajah mereka, menyusup ketakutan dan cemas, seolah hariku tak panjang lagi, seolah semua yang telah ku siapkan tak akan berarti dimasa depan nanti. Tuhan, aku begitu menyayangi mereka. Semoga semua berguna, bukan sekedar mimpi tapi kenyataan yang mengekstasi. Terima kasih Tuhan, atas kehidupan layak yang Engkau karuniakan. Terima kasih para perempuanku.
“Tuhan selamatkan istri dan anakku” begitu salah satu lirik yang menggema dari lagu Ebiet G Ade. Aku ingat beberapa sosok perempuan yang selama ini dekat dengan hidupku, pancaran kasih Tuhan yang memang menguatkan kehidupanku. Ibu, sebagai orang yang harus aku cium kakinya 3 kali lebih banyak dari pada ayah. Kedua nenekku yang setahuku, mereka bangga dengan kelahiranku, hanya saja sekarang beliau telah renta dan satunya lagi telah berada di alam berbeda (semoga Allah mengampuni dosanya). Luthfi Umi Khasanah, satu-satunya saudari perempuanku yang bandel. Si cengeng yang menjadikanku tempat bertanya soal matematika kelas 5 SD dan huruf qolqolah. Terakhir kali, pastinya seorang perempuan yang setahun lebih sabar menjalani hidup tanpa ku beri makan, ku berikan kejelasan status dan kukatakan bahwa aku bangga padanya. Yang aku berikan adalah kep[ercayaan dan do’a untuk kebersamaan yang kami idamkan sampai nafas terakhir melewati labirin-labirin panjang dalam tubuh kami.
Tuhan aku punya permintaaan, haturkan maafku kelak jika aku belum sempat mengatakannya pada mereka. Aku yakin Engkau kuasa untuk mengabulkannya. Biarkan tangis ini pecah dibatu mimpi, begitu melankonis malam ini. Membayangkan wajah mereka, menyusup ketakutan dan cemas, seolah hariku tak panjang lagi, seolah semua yang telah ku siapkan tak akan berarti dimasa depan nanti. Tuhan, aku begitu menyayangi mereka. Semoga semua berguna, bukan sekedar mimpi tapi kenyataan yang mengekstasi. Terima kasih Tuhan, atas kehidupan layak yang Engkau karuniakan. Terima kasih para perempuanku.

0 comments
click to leave a comment!